Introver

08 Maret 2026 Raja Saleh 119
Introver

Raihan, mahasiswa semester VIII Jurusan Ilmu Hukum salah satu universitas di Pekanbaru diduga melakukan penganiayaan terhadap Farra, teman dekatnya. Raihan diduga telah melakukan kekerasan dengan menggunakan senjata tajam dan mengakibatkan korban (Farra) terluka pada bagian kepala, tangan, dan punggung. Peristiwa yang terjadi pada 26 Februari 2026 itu sontak membuat geger warga Riau, apalagi Pekanbaru. Tidak hanya menjadi obrolan hangat di dunia nyata, reaksi di dunia maya seperti media sosial (medsos) lebih heboh lagi. Berita penganiayaan itu betul-betul menjadi santapan sahur dan berbuka netizen pada bulan Ramadan. Hampir setiap membuka Facebook, TikTok, Instagram, grup-grup WhatsApp, dan medsos lainnya wajah kuyu Raihan selalu menghiasi, terlihat lelah, seperti didera oleh penyesalan.

Dari berita yang beredar, diketahui bahwa Raihan dan Farra saling kenal ketika mereka melaksanakan kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) di desa yang sama. Dari situ semua kisah bermula. Raihan yang dulunya pendiam, tidak terlalu suka mengobrol dengan teman-temannya, seperti mendapat spirit dalam hidupnya. Raihan seolah menemukan tambatan hati yang selalu memberi energi positif dan siap menyemangati hari-harinya melaksanakan kegiatan-kegiatan KKN. Dalam pemberitaan, perasaan suka yang mulai bersemi di hati Raihan seolah bertepuk sebelah tangan. Farra menganggap hubungan mereka tidak lebih dari teman. Farra hanya ingin suasana KKN dapat lebih baik sehingga program-program dapat berjalan sebagaimana mestinya. Namun kemudian, bagaimanakah bentuk hubungan antara Raihan dan Farra sebenarnya, apakah mereka sekadar teman atau lebih dari itu, apakah mereka memang saling menyukai dan memiliki hubungan spesial atau tidak, wallahu a’lam bissawab, biarlah aparat yang berwenang melaksanakan tugas penyelidikan.

Meskipun demikian, ada satu hal yang sangat menarik untuk dibahas berkaitan dengan respons terhadap peristiwa itu. Hampir semua berpendapat, baik secara langsung maupun yang ditulis netizen melalui media sosial, bahwa Raihan adalah pribadi yang introver. Pendapat netizen tersebut juga diperkuat oleh hasil pendampingan psikologi yang diberikan oleh Bagian Psikologi Biro SDM Polda Riau sebagaimana diberitakan oleh TribunPekanbaru.com bahwa Raihan memiliki karakter introver. Hal itulah yang hendak dibahas pada artikel singkat ini, yakni seperti apa atau seburuk apakah makna introver itu?

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keenam (KBBI) yang diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa kata introver dimaknai ‘bersifat suka memendam rasa dan pikiran sendiri dan tidak mengutarakannya kepada orang lain’; ‘bersifat tertutup’; ‘orang yang minatnya ditujukan kepada yang ada di dalam pikiran dan perasaannya sendiri’; ‘orang yang bersikap tertutup’. Makna itu mungkin masih netral. Maksudnya, makna dalam KBBI tersebut masih secara harfiah, yakni hanya memaknai kata introver secara leksikal. Nugraha dan Zuhriah dalam penelitiannya yang terbit dalam Jurnal Ilmu Komunikasi UHO: Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Sosial dan Informasi, Volume 8. No. 2. (2023), hlm. 223-231, memaknai introver secara lebih ekstrem. Mahasiswa introver adalah seorang yang antisosial, kebiasaan yang suka menyendiri dan tidak melakukan kegiatan sosial dan mempengaruhi ketrampilan mereka dalam bersosialisasi. Nugraha dan Zuhriah juga menyatakan bahwa mahasiswa introver sukar dalam bergaul, kurang percaya diri, serta sulit menyampaikan gagasan dan perasaan. Pendapat lainnya disampaikan oleh Subtinanda dan Yuliana dalam Jurnal Pendidikan Nonformal (2023) juga mengatakan hal yang sama bahwa kepribadian introver melibatkan ciri-ciri seperti mudah tersinggung, perasaan mudah terluka, gugup, rendah diri, cenderung melamun, dan gangguan tidur.

Setidaknya, begitulah definisi dan pendapat tentang introver menurut KBBI dan dua penelitian tersebut. Pendapat tersebut juga berbanding lurus dengan status dan komentar netizen. Dari sejumlah status dan komentar netizen dalam media sosial, dapat disebutkan bahwa introver memiliki makna yang sangat negatif. Malah, ada yang mengatakan bahwa orang yang berkarakter introver sangat berbahaya sehingga perlu dihindari. Dengan demikian, dapat diasumsikan bahwa pendapat umum tentang introver hanya memiliki makna negatif, yaitu susah bergaul, mudah tersinggung, dan sangat berbahaya.

Secara teknis, introver (introvert) adalah isitlah dalam bidang psikologi yang dicetuskan oleh Carl Gustav Jung seperti halnya ekstrover (extrovert) untuk menyebutkan tipe kepribadian. Belakangan, diperkenalkan juga istilah ambiver (ambivert) dan otrover (otrovert). Jung mengatakan bahwa introver adalah kepribadian yang memfokuskan energi psikis ke dalam diri, mengutamakan pemikiran, perasaan, dan refleksi subjektif daripada dunia luar. Orang dengan kepribadian introver mengisi ulang energi melalui kesendirian, cenderung tenang, pemikir reflektif, dan lebih suka interaksi sosial terbatas atau intim. Hans Eysenck juga memberi pandangan tentang introver, Eysenck mengatakan bahwa perbedaan utama karakter introver terletak pada cara mengisi ulang energi mental. Introver memiliki tingkat aktivitas otak yang lebih tinggi sehingga perlu menarik diri untuk menghindari kelebihan rangsangan (overstimulation). Susan Cain lebih tegas mengatakan bahwa pribadi introver selalu berpikir panjang dan matang sebelum menyampaikan ide atau gagasan mereka.

Jika mengacu pada penjelasan yang dikemukakan baik oleh Jung, Eysenck, maupun Susan Cain tersebut, introver berkonotasi pada makna yang bersifat positif. Poin utama dari Jung adalah karakter introver cenderung tenang dan pemikir reflektif. Eysenck pun demikian. Ia mengatakan tingkat aktivitas otak lebih tinggi yang menyiratkan bahwa karakter introver cenderung lebih cerdas. Sementara itu, melalui penjelasan Susan Cain, dapat disimpulkan bahwa karakter introver selalu berhati-hati dalam menyampaikan pendapat atau gagasan kepada orang lain. Dengan demikian, introver bukanlah penyakit yang melulu didefinisikan sebagai sesuatu yang negatif. Introver adalah salah satu karakter/tipe kepribadian yang dimiliki manusia. Bahkan, pada konteks tertentu introver biasanya cenderung memiliki kercerdasan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan ekstrover. Selain itu, kepribadian introver juga dikenal lebih menyukai lingkungan pertemanan yang relatif kecil, tetapi akrab daripada kelompok besar. Pribadi introver juga biasanya lebih tenang, reflektif, introspektif. Artinya, introver hanya pendiam, bukan pemalu. Banyak introver yang juga lebih percaya diri. Kekuatan kepribadian introver yang sangat istimewa adalah cenderung lebih teliti, kreatif, dan fokus mengerjakan sesuatu serta biasanya lebih mampu mengatasi situasi dengan baik.

Oleh karena itu, agak keliru ketika banyak netizen yang mengatakan bahwa orang melakukan perbuatan sadis/aniaya karena orang tersebut introver. Justru, mungkin seorang introver sudah dan lebih mampu mempertimbangkan segala sesuatu atas permasalahan yang dihadapinya dibandingkan dengan pribadi yang ekstrover. Kita mungkin tidak dapat memahami betapa berkecamuk jiwa seseorang dalam situasi tekanan psikis dan kekecewaan yang dialaminya. Meski sudah dipikirkan secara matang, tindakan menganiaya tentu saja tidak dapat dibenarkan.***

Serindit

Online